KULIAH LUAR RUANGAN DM B MD 2019
PROBLEMATIKA DAKWAH DALAM MASYARAKAT MODERN
Ditujukan untuk
memenuhi tugas individu mata kuliah Dakwah Multikultural
Dosen Pengampu : Dr. Andy Dermawan, M.Ag

Maghfirotun Nisa’
18102040095
JURUSAN
MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS DAKWAH
DAN KOMUNIKASI
UIN SUNAN
KALIJAGA YOGYAKARTA
2019
A.
Latar Belakang
Dalam
situasi masyarakat masa kini yang mengikuti alur
perkembangan dalam era globalisasi, dakwah perlu digerakkan sebagai membimbing manusia
ke jalan yang benar. Oleh karena itu, setiap individu Muslim perlu berganding bahu untuk sama-sama
melaksanakan usaha dakwah, menyampaikan ajaran Islam serta memberikan kesadaran
mengenai ketinggian Islam bagi mewujudkan masyarakat muslim yang terbaik.
Dakwah merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah perkembangan islam. Ajaran-ajaran Islam yang dianut oleh manusia di berbagai belahan dunia
merupakan bukti paling kongkrit dari aktivitas dakwah yang dilakukan selama
ini. Signifikansi dakwah ini akan terus berlangsung sampai akhir zaman, sebab
dakwah merupakan usaha sosialisasi dan internalisasi ajaran-ajaran islam ke
dalam berbagai aspek kehidupan umat manusia. Dakwah selalu hadir memberikan
solusi-alternatif terhadap berbagai problem keummatan.[1]
Mengingat dakwah merupakan manifestasi dari kesadaran spiritual dalam
bentuk ihtiar muslim untuk mewujudnyatakan ajaran-ajaran Islam, maka diperlukan
pemahaman yang tuntas dan komprehensif mengenai dakwah itu sendiri. Pemahaman tentang hakikat dakwah sangat diperlukan
sebab merupakan landasan filosofis dan normatif untuk menggerakkan dakwah
seiring dengan tingkat dinamika sosial kemasyarakatan terutama dakwah dalam masyarakat modern.[2]
Masyarakat modern merupakan masyarakat yang sebagian besar
warganya mempunyai orientasi nilai budaya yang terarah ke kehidupan dalam
peradaban masa kini. Kebiasaan
dari masyarakat modern adalah mencari hal-hal mudah, sehingga penggabungan
nilai-nilai lama dengan kebudayaan birokrasi modern diarahkan untuk kenikmatan
pribadi. Sehingga, muncullah praktek-peraktek kotor seperti nepotisme, korupsi, yang
menyebabkan penampilan mutu yang amat rendah. Sehingga hal
ini lah yang menjadi pekerjaan rumah bagi para pendakwah di zaman modern
sekarang ini.
Dakwah merupakan tugas suci umat Islam yang identik
dengan tugas Rasul, bertujuan mewujudkan tatanan masyarakat Islami yang
diridhai oleh Allah, yakni sebuah tatanan msyarakat yang berjalur Iman, Islam
dan Ikhsan.
Apabila telah dicermati secara mendalam tentang tujuan
dakwah, maka akan mudah bagi umat Islam untuk mengerti betapa pentingnya posisi
dakwah dikalangan umat Islam pada khususnya dan umat manusia pada umumnya
termasuk dalam era kehidupan modern. Gunanya mencapai tujuan kehidupan yang
bermakna agar gerak hidup manusia sesuai dengan nilai “ fitrah kejadian “
sebagai idenditas kemanusiaan.
Dakwah akan berhadapan dengan dimensi masyarakat, yang
dari waktu ke waktu berkembang dan memiliki karakternya masing-masing.
Dakwah yang efektif tentu harus cerdas dalam memainkan peran dan fungsinya agar
fungsi rahmatan lil `alamin yang dipikulnya dapat bekerja optimal.
Dengan kata lain, modal Dakwah pada setiap zaman tentu akan berbeda, karena
mesti dibawakan, dikomunikasikan, disesuaikan dengan karakter zamannya. Pesan
Rasulullah SAW sangat jelas, "khotibunnasi ‘ala qodri `uqulihim‘;
"khotibunnas ‘ala lughotihim" Dakwah harus mampu berkomunikasi
secara efektif, disesuaikan dengan kondisi dan karakter masyarakat yang menjadi
obyek dakwahnya.[3]
Sukses tidaknya suatu kegiatan dakwah bukanlah diukur
melalui gelak tawa atau tepuk riuh pendengarnya, bukan pula dengan ratap tangis
mereka. Kesuksesan dakwah dapat dilihat pada bekas yang ditinggalkan dalam
benak pendengarnya ataupun tercermin dalam tingkah laku mereka. Untuk mencapai
hasil yang maksimal, tidak dapat lain dakwah Islam harus dilaksanakan secara
efektif. Efektifitas dapat diartikan sampai dimana suatu organisasi dapat
mencapai tujuan-tujuan utama yang telah ditetapkan.Dalam kaitannya
dengan proses dakwah, maka efektifitas dakwah dapat diukur melalui tingkat
keberhasilan dakwah dalam mencapai tingkta out put sesuai dengan
tujuan yang telah ditetapkan, yaitu terbentuknya kondisi yang Islami. [4]
Dengan demikian ada beberapa pilar utama penggerak
kemajuan dakwah dalam menghadapi masyarakat modern yakni mulai dari pembenahan
sistem metodelogi, serta tekhnik pendekatan yang bijaksana sesuai dengan
tingkat kemajuan zaman dan peradaban masyarakat modern serta muhasabah diri
dari penggerak dakwah.
Disamping
itu dalam menghadapi era modern para juru dakwah harus mampu memamfaatkan semua
saran penunjang dakwah. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tehknologi akan sangat
menguntungkan dakwah bila mampu dumamfaatkan secara bijak oleh para pelaksana
dakwah, artinya pergerakan dakwah direncanakan dengan secara matang,
dikoordinir secara rapi serta diawasi secara serius dengan memelihara seluruh
media yang ada dalam masyarakat.
Akhirnya
sebagi umat yang hidup di zaman modern diharapakan umat Islam dengan dakwahnya
harus mampu bersanding dan bersaing dengan umat lain yang telah maju, dengan
cara mengusai ilmu pengetahuan dan tehknologi disamping memiliki iman dan taqwa
yang mantap.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana bentuk-bentuk problematika dakwah dalam masyarakat modern?
2. Bagaimana solusi problematika dakwah dalam masyarakat modern?
C.
Bentuk-Bentuk Problematika Dakwah dalam Masyarakat Modern
Dakwah pada era
kontemporer ini dihadapkan pada berbagai problematika yang kompleks. Hal ini
tidak terlepas dari adanya perkembangan masyarakat yang semakin maju. Pada
masyarakat agraris kehidupan manusia penuh dengan kesahajaan tentunya memiliki
problematika hidup yang berbeda dengan masyarakat modern yang cenderung
matrealistik dan indifidualistik. Begitu juga tantangan problematika dakwah
akan dihadapkan pada berbagai persoalan yang sesuai dengan tuntutan pada era
sekarang.[5]
Ada tiga
problematika besar yang dihadapi dakwah dalam masyarakat modern di era
kontemporer ini, antara lain :
1. Pemahaman masyarakat pada umumnya
terhadap dakwah lebih diartikan sebagai aktifitas yang bersifat oral
communication (tablig) sehingga aktifitas dakwah lebih beriontasi pada
kegiatan-kegiatan caramah.
2. Problematika
yang bersifat epistemologis. Dakwah pada era sekarang bukan hanya bersifat
rutinitas, temporal dan instan, melainkan dakwah membutuhkan paradigma
keilmuan. Dengan adanya keilmuan dakwah tentunya hal-hal yang terkait dengan
langkah srategis dan teknis dapat dicari rujukannya melalui teori-teori dakwah.
3. Problem yang
menyangkut sumber daya manusia.
Selain tiga di
atas juga ada problematika dakwah dalam masyarakat modern dilihat dari :
1. Permasalahan Petugas dakwah (Da’i dan Lembaga
Dakwah)
Permasalahan diseputar petugas
dakwah ini sangat banyak antara lain adalah :
a.
terjadinya penyempitan arti dan fungsi dakwah menjadi hanya sekedar
menyampaikan dan menyerukan dari atas mimbar, padahal dakwah sangat luas
cakupannya yaitu mengajak manusia kepada kebajikan dan petunjuk, menyuruh
mereka berbuat baik dan melarang mereka dari kemungkaran, agar mereka
memperoleh kesejahteraan / kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
b.
umumnya para da’i tidak profesional, bahkan banyak di antara mereka yang
menjadikan dakwah sebagai kerja sampingan setelah gagal meraih yang diinginkan,
akibatnya dakwah hanya dilakukan sekedar berpidato semata. Padahal Pendakwah
adalah pemimpin masyarakat yang dapat memperbaiki kehidupan yang rusak.
c.
banyak di antara da’i yang tidak dapat memahami dan memanfaatkan kemajuan
ilmu pengetahuan dan tekhnologi, padahal Iptek adalah sesuatu yang bersifat
netral yang dapat dipergunakan untuk kebaikan dan kejahatan..
d.
longgarnya ikatan batin antara si da’i dengan masyarakat, hubungan itu
hanya sebatas ceramah, selesai ceramah dibayar dan habis perkara.
e.
kegiatan lebih banyak bersifat dakwah bil lisan, sedangkan dakwah bil hal
jarang dilakukan.
1.
Permasalahan Materi Dakwah
Materi dakwah yang disampaikan
pada umumnya adalah bersifat pengulangan atau klise sehingga menimbulkan
kejenuhan bagi masyarakat. Dan jarang sekali menyinggung kemajuan Iptek dalam
rangka menunjang peningkatan Imtaq.
2.
Permasalahan
pendekatan dan metode dakwah
Dalam melakukan pendekatan dan
metode dakwah banyak di antaranya yang kurang/tidak tepat sasaran sesuai dengan
situasi dan kondisinya. Padahal Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar berbicara
(memberikan dakwah) kepada manusia sesuai dengan tingkah laku atau pola
pikirannya masing-masing.
3.
Permasalahan Media,
Sarana dan Dana Dakwah
Jarang sekali di antara da’i dan
Lembaga Dakwah yang memanfaatkan media canggih sebagai sarana untuk berdakwah
seperti HP, TV, VCD, Film, Internet dan lain sebagainya, padahal sarana ini
sangat ampuh dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Selain itu lembaga dakwah dan bahkan da’i sangat minim / kurang dalam hal
pendanaan.
4. Permasalahan Manajemen dan Sistem Dakwah
Kelemahan utama dalam bidang
manajemen adalah kurang mampunya pengelola lembaga dakwah dalam menerapkan
manajemen modern dalam pengelolaan lembaga dakwah. Pada umumnya mereka
menerapkan manajemen tradisional dalam pengelolaan lembaga dakwah. Selain itu
manajemen lembaga dakwah banyak yang bersifat tertutup, tidak melaksanakan open
manajemen sehingga program-programnya tidak diketahui oleh masyarakat.[6]
D. Solusi Problematika dakwah dalam Masyarakat Modern
Dakwah merupakan suatu masalah yang kongkrit, yang rill, tidak hanya
sebagai perintah Tuhan saja. Sampai sekarang para ahli dakwah kita pada umumnya
menitikberatkan perhatian terhadap dakwah sebagai perintah Allah, tapi kurang
melihatnya sebagai masalah yang konkrit dan rill. Yang meminta pemecahan
operasinal lebih lanjut.
Dakwah artinya seruan, ajakan,
panggilan, atau mendakwah berarti usaha meyeru, menyampaikan/Dakwah Islamiah,
maksudnya usaha menyampaikan prinsip-prinsip ajaran Islam, pembinaan dan
pengembangannya ditengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu dakwah akan
mempunyai suatu tugas pembentukan individu, pembinaan umat, pembangunan
masyarakat dan mencerdaskannya. Dakwah mengandung lingkup yang sangat luas
ruang lingkupnya seluas kehidupan manusia itu sendiri. Dakwah tidak terbatas
kepada tabligh tapi dapat pula berbentuk tindakan dan perbuatan nyata. Dakwah
dimanivestasikan dalam kehidupan sehari-hari seperti dikantor, bergaul dengan
tetangga, di pasar, bergaul dengan sesama. Dengan demikian opini publik tentang
Islam menjadi baik, timbul rasa senang dan simpati yang pada akhirnya ingin
mengelompokkan diri ke dalam kelompok muslim yang taat.
Agar dakwah dalam konteks
kekinian dan kedisinian kita dapat berdaya guna dan berhasil guna maka diperlukan
para juru dakwah yang profesional dengan kemampuan ilmiah, wawasan luas yang
bersifat generalis, memiliki kemampuan penguasaan, kecakapan, kekhususan yang
tinggi. Orang yang seperti ini adalah orang yang percaya diri, berdisiplin
tinggi, tegar dalam berpendirian dan memilik integritas moral keprofesionalan
yang tinggi. Mampu bekerja secara perorangan dan secara tim dengan sikap
solidaritas atas komitmen dan konsisten yang teruji kokoh. Untuk menjadi tenaga
dakwah yang professional, menurut Prof. Dr. H. Djudju Sudjana (1999), seorang
da’i harus memiliki tiga kompetensi, yaitu kompetensi akademik, kompetensi
pribadi, dan kompetensi sosial.
Mendakwahkan Islam berarti
memberikan jawaban Islam terhadap berbagai permasalahan umat. Karenanya dakwah
Islam selalu terpanggil untuk menyelasaikan berbagai permasalahan yang sedang
dan akan dihadapi oleh umat manusia. Meskipun misi dakwah dari dulu sampai
sekarang tetap sama yaitu mengajak umat manusia kedalam sistem Islam, namun
tantangan dakwah berupa problematika umat senantiasa berubah dari waktu ke
waktu. Untuk mengatasi berbagai persoalan diatas, tidak cukup hanya dengan
melakukan program dakwah yang konvensional, sporadis, proaktif, dan reaktif,
tetapi harus bersifat profesional, strategis, dan pro-aktif.
Menghadapi mad’u (sasaran dakwah)
yang semakin kritis dan tantangan dunia global yang semakin kompleks dewasa
ini, maka diperlukan dapat bersaing di bursa informasi yang semakin kompetitif.
Ada beberapa rancangan kerja dakwah yang dapat dilakukan untuk menjawab
problematika umat dewasa ini:
1.
Memfokuskan aktivitas dakwah untuk mengentaskan kemiskinan umat.
2.
Menyiapkan profil strategis muslim untuk disuplai ke berbagai jalur
kepemimpinan bangsa sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing.
3.
Membuat peta sosial umat sebagai sosial umat sebagai informasi awal bagi
pengembangan dakwah.
4.
Mengintegrasikan wawasan etika, estetika, logika, dan budaya dalam berbagai perencanaan dakwah baik secara internal umat
maupun secara eksternal.
5.
Mendirikan pusat-pusat studi dan informasi umat secara lebih profesional
dan berorientasi pada kemajuan iptek.
6.
Menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan ekonomi, kesehatan, dan kebudayaan
umat Islam.
Sedangkan dalam metode dakwah islam
terdapat 3 prinsip umum metode dakwah, yaitu metode Bil-hikmah, metode
bil-mauidzotil khasanah, dan metode mujadalah. banyak penafsiran para
Ulama terhadap tiga Prinsip metode tersebut antara lain:
a. Metode hikmah : menurut
Syeh Mustafa Al-Maroghi dalam tafsirnya mengatakan bahwa hikmah yaitu;
Perkataan yang jelas dan tegas disertai dengan dalil yang dapat mempertegas
kebenaran, dan dapat menghilangkan keragu-raguan.
b. Metode mau’izah
khasanah menurut Ibnu Syayyidiqi adalah memberi ingat kepada orang lain dengan
fahala dan siksa yang dapat menaklukkan hati.
c. Metode mujadalah dengan sebaik – baiknya berdakwah.
Ketiga metode dakwah tersebut diaplikasikan
dalam berbagai pendekatan, diantarnya yaitu:
a. Pendekatan Personal; Pendekatan
dengan cara ini terjadi dengan cara individual. Antara da’i dan mad’u
langsung bertatap muka sehingga materi yang disampaikan langsung diterima.
b. Pendekatan Pendidikan; Pada
masa Nabi, dakwah lewat pendidikan dilakukan beriringan dengan masuknya Islam
kepada kalangan sahabat. Begitu juga pada masa sekarang ini,kita dapat melihat
pendekatan pendidikan teraplikasi dalam lembaga – lembaga pendidikan pesantren,
yayasan yang bercorak Islam ataupun perguruan tinggi yang didalamnya terdapat
materi-materi keislaman.
c. Pendekatan Diskusi; Pendekatan diskusi pada era sekarang sering dilakukan
lewatberbagai diskusi keagamaan, da’i berperan sebagai nara sumber
sedang mad’u berperan sebagai undience.
d.
Pendekatan
Penawaran; Cara ini dilakukan Nabi dengan memakai metode yang tepat
tanpa paksaan sehingga mad’u ketika meresponinya tidak dalam keadaan
tertekan bahkan ia melakukannya dengan niat yang timbul dari hati yang paling
dalam.
e.
Pendekatan Misi; Maksud dari pendekatan ini adalah
pengiriman para da’i ke daerah – daerah di luar tempat domisisli.
Sukses tidaknya suatu kegiatan
dakwah bukanlah diukur melalui gelak tawa atau tepuk riuh pendengarnya, bukan
pula dengan ratap tangis mereka. Kesuksesan dakwah dapat dilihat pada bekas yang
ditinggalkan dalam benak pendengarnya ataupun tercermin dalam tingkah laku
mereka. Untuk mencapai hasil yang maksimal, tidak dapat lain dakwah Islam harus
dilaksanakan secara efektif. Efektifitas dapat diartikan sampai dimana suatu
organisasi dapat mencapai tujuan-tujuan utama yang telah ditetapkan. Dalam
kaitannya dengan proses dakwah, maka efektifitas dakwah dapat diukur melalui
tingkat keberhasilan dakwah dalam mencapai tingkta out put sesuai
dengan tujuan yang telah ditetapkan, yaitu terbentuknya kondisi yang Islami.
E. Kesimpulan
Berdasarkan
uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan :
1.
Problematika
dakwah dalam masyarakat modern adalah permasalahan yang muncul dalam menyeru,
memanggil, mengajak dan menjamu, dengan proses yang ditangani oleh para pengembang
dakwah terhadap masyarakat yang sebagian besar warganya
mempunyai orientasi nilai budaya yang terarah ke kehidupan dalam perkembangan
zaman masa kini.
2. Bentuk-bentuk problematika dakwah dalam masyarakat modern
antara lain :
a. Permasalahan Petugas dakwah (Da’i dan Lembaga
Dakwah)
b.
Permasalahan Materi
Dakwah
c.
Permasalahan
pendekatan dan metode dakwah
d.
Permasalahan Media,
Sarana dan Dana Dakwah
e.
Permasalahan Manajemen dan Sistem Dakwah
3.
Solusi dakwah
dalam problematika masyarakat modern
a. Memfokuskan aktivitas dakwah untuk mengentaskan
kemiskinan umat
b. Menyiapkan profil strategis muslim untuk
disuplai ke berbagai jalur kepemimpinan bangsa sesuai dengan bidang keahliannya
masing-masing.
c. Membuat peta sosial umat sebagai sosial umat sebagai
informasi awal bagi pengembangan dakwah.
d. Mengintegrasikan wawasan etika, estetika, logika, dan
budaya dalam berbabagi perencanaan dakwah baik secara internal umat maupun
secara eksternal.
e. Mendirikan pusat-pusat studi dan informasi umat secara
lebih profesional dan berorientasi pada kemajuan iptek.
f. Menjadikan masjid sebagai pusat
kegiatan ekonomi, kesehatan, dan kebudayaan umat Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Anas A, 2005, Paradigma Dakwah Kontemporer. Semarang
: Walisongo Press IAIN Walisongo
Aminudin, Dakwah dan Problematikanya dalam
Masyarakat Modern, Al Munzir Vol 8 No 1, Mei 2015
Siti Muriah, 2000, Metodologi Dakwah Kontemporer,
Yogyakarta, Mitra Pustaka, Lembaga Percetakan Raja Fahd
LAMPIRAN
|
No
|
Akar Masalah
|
Solusi
|
|
1
|
Petugas dakwah (Da’i dan Lembaga Dakwah)
|
·
diperlukan para juru dakwah yang professional dengan kemampuan ilmiah,
wawasan luas yang bersifat generalis, memiliki kemampuan penguasaan,
kecakapan, kekhususan yang tinggi
·
Menyiapkan
profil strategis muslim untuk disuplai ke berbagai
jalur kepemimpinan bangsa sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing
|
|
2
|
Materi Dakwah
|
·
bersifat profesional, strategis, dan pro-aktif
|
|
3
|
Pendekatan dan Metode
Dakwah
|
·
Melakukan pendekatan personal, pendidikan,diskusi, perencanaan, misi
|
|
4
|
Media, sarana, dan dana
dakwah
|
·
Memfokuskan
aktivitas dakwah untuk mengentaskan kemiskinan umat
·
Mendirikan
pusat-pusat studi dan informasi umat secara lebih profesional dan
berorientasi pada kemajuan iptek
·
|
|
5
|
Manajemen dan Sistem Dakwah
|
·
Mengintegrasikan
wawasan etika, estetika, logika, dan budaya dalam berbabagi perencanaan
dakwah baik secara internal umat maupun secara eksternal
|
[1] A. Anas, Paradigma
Dakwah Kontemporer, ( Semarang (ID): Walisongo Press IAIN
Walisongo, 2005), hlm. 76
[2] Siti Muriah , Metodologi
Dakwah Kontemporer, Yogyakarta, Mitra Pustaka, 2000, Lembaga
Percetakan Raja Fahd, hlm. 35
[4] Aminudin, Dakwah dan Problematikanya
dalam Masyarakat Modern, Al Munzir Vol 8 No 1, 2015, hlm 15
[6] A. Anas, Paradigma
Dakwah Kontemporer, (Semarang
(ID): Walisongo Press IAIN Walisongo, 2005), hlm. 83
Tidak ada komentar:
Posting Komentar