Jumat, 11 Oktober 2019

KULIAH LUAR RUANGAN MD



KULIAH LUAR RUANGAN DM B MD 2019
PROBLEMATIKA DAKWAH DALAM MASYARAKAT MODERN
Ditujukan untuk memenuhi tugas individu mata kuliah Dakwah Multikultural
Dosen Pengampu : Dr. Andy Dermawan, M.Ag

images (1)_1542963751484

Maghfirotun Nisa’
18102040095

JURUSAN MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2019

A.    Latar Belakang
Dalam situasi masyarakat masa kini yang mengikuti alur perkembangan dalam era globalisasi, dakwah perlu digerakkan sebagai membimbing manusia ke jalan yang benar. Oleh karena itu, setiap individu Muslim perlu berganding bahu untuk sama-sama melaksanakan usaha dakwah, menyampaikan ajaran Islam serta memberikan kesadaran mengenai ketinggian Islam bagi mewujudkan masyarakat muslim yang terbaik. Dakwah merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah perkembangan islam. Ajaran-ajaran Islam yang dianut oleh manusia di berbagai belahan dunia merupakan bukti paling kongkrit dari aktivitas dakwah yang dilakukan selama ini. Signifikansi dakwah ini akan terus berlangsung sampai akhir zaman, sebab dakwah merupakan usaha sosialisasi dan internalisasi ajaran-ajaran islam ke dalam berbagai aspek kehidupan umat manusia. Dakwah selalu hadir memberikan solusi-alternatif terhadap berbagai problem keummatan.[1]
Mengingat dakwah merupakan manifestasi dari kesadaran spiritual dalam bentuk ihtiar muslim untuk mewujudnyatakan ajaran-ajaran Islam, maka diperlukan pemahaman yang tuntas dan komprehensif mengenai dakwah itu sendiri. Pemahaman tentang hakikat dakwah sangat diperlukan sebab merupakan landasan filosofis dan normatif untuk menggerakkan dakwah seiring dengan tingkat dinamika sosial kemasyarakatan terutama dakwah dalam masyarakat modern.[2]
Masyarakat modern merupakan masyarakat yang sebagian besar warganya mempunyai orientasi nilai budaya yang terarah ke kehidupan dalam peradaban masa kini. Kebiasaan dari masyarakat modern adalah mencari hal-hal mudah, sehingga penggabungan nilai-nilai lama dengan kebudayaan birokrasi modern diarahkan untuk kenikmatan pribadi. Sehingga, muncullah praktek-peraktek kotor seperti nepotisme, korupsi, yang menyebabkan penampilan mutu yang amat rendah. Sehingga hal ini lah yang menjadi pekerjaan rumah bagi para pendakwah di zaman modern sekarang ini.
Dakwah merupakan tugas suci umat Islam yang identik dengan tugas Rasul, bertujuan mewujudkan tatanan masyarakat Islami yang diridhai oleh Allah, yakni sebuah tatanan msyarakat yang berjalur Iman, Islam dan Ikhsan.
Apabila telah dicermati secara mendalam tentang tujuan dakwah, maka akan mudah bagi umat Islam untuk mengerti betapa pentingnya posisi dakwah dikalangan umat Islam pada khususnya dan umat manusia pada umumnya termasuk dalam era kehidupan modern. Gunanya mencapai tujuan kehidupan yang bermakna agar gerak hidup manusia sesuai dengan nilai “ fitrah kejadian “ sebagai idenditas kemanusiaan.
Dakwah akan berhadapan dengan dimensi masyarakat, yang dari waktu ke waktu berkembang dan memiliki karakternya masing-masing. Dakwah yang efektif tentu harus cerdas dalam memainkan peran dan fungsinya agar fungsi rahmatan lil `alamin yang dipikulnya dapat bekerja optimal. Dengan kata lain, modal Dakwah pada setiap zaman tentu akan berbeda, karena mesti dibawakan, dikomunikasikan, disesuaikan dengan karakter zamannya. Pesan Rasulullah SAW sangat jelas, "khotibunnasi ‘ala qodri `uqulihim‘; "khotibunnas ‘ala lughotihim" Dakwah harus mampu berkomunikasi secara efektif, disesuaikan dengan kondisi dan karakter masyarakat yang menjadi obyek dakwahnya.[3]
Sukses tidaknya suatu kegiatan dakwah bukanlah diukur melalui gelak tawa atau tepuk riuh pendengarnya, bukan pula dengan ratap tangis mereka. Kesuksesan dakwah dapat dilihat pada bekas yang ditinggalkan dalam benak pendengarnya ataupun tercermin dalam tingkah laku mereka. Untuk mencapai hasil yang maksimal, tidak dapat lain dakwah Islam harus dilaksanakan secara efektif. Efektifitas dapat diartikan sampai dimana suatu organisasi dapat mencapai tujuan-tujuan utama yang telah ditetapkan.Dalam kaitannya dengan proses dakwah, maka efektifitas dakwah dapat diukur melalui tingkat keberhasilan dakwah dalam mencapai tingkta out put  sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, yaitu terbentuknya kondisi yang Islami. [4]
Dengan demikian ada beberapa pilar utama penggerak kemajuan dakwah dalam menghadapi masyarakat modern yakni mulai dari pembenahan sistem metodelogi, serta tekhnik pendekatan yang bijaksana sesuai dengan tingkat kemajuan zaman dan peradaban masyarakat modern serta muhasabah diri dari penggerak dakwah.
Disamping itu dalam menghadapi era modern para juru dakwah harus mampu memamfaatkan semua saran penunjang dakwah. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tehknologi akan sangat menguntungkan dakwah bila mampu dumamfaatkan secara bijak oleh para pelaksana dakwah, artinya pergerakan dakwah direncanakan dengan secara matang, dikoordinir secara rapi serta diawasi secara serius dengan memelihara seluruh media yang ada dalam masyarakat.
Akhirnya sebagi umat yang hidup di zaman modern diharapakan umat Islam dengan dakwahnya harus mampu bersanding dan bersaing dengan umat lain yang telah maju, dengan cara mengusai ilmu pengetahuan dan tehknologi disamping memiliki iman dan taqwa yang mantap.


B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana bentuk-bentuk problematika dakwah dalam masyarakat modern?
2.      Bagaimana solusi problematika dakwah dalam masyarakat modern?

C.     Bentuk-Bentuk Problematika Dakwah dalam Masyarakat Modern
Dakwah pada era kontemporer ini dihadapkan pada berbagai problematika yang kompleks. Hal ini tidak terlepas dari adanya perkembangan masyarakat yang semakin maju. Pada masyarakat agraris kehidupan manusia penuh dengan kesahajaan tentunya memiliki problematika hidup yang berbeda dengan masyarakat modern yang cenderung matrealistik dan indifidualistik. Begitu juga tantangan problematika dakwah akan dihadapkan pada berbagai persoalan yang sesuai dengan tuntutan pada era sekarang.[5]
Ada tiga problematika besar yang dihadapi dakwah dalam masyarakat modern di era kontemporer ini, antara lain :
1.      Pemahaman masyarakat pada umumnya terhadap dakwah lebih diartikan sebagai aktifitas yang bersifat oral communication (tablig) sehingga aktifitas dakwah lebih beriontasi pada kegiatan-kegiatan caramah.
2.      Problematika yang bersifat epistemologis. Dakwah pada era sekarang bukan hanya bersifat rutinitas, temporal dan instan, melainkan dakwah membutuhkan paradigma keilmuan. Dengan adanya keilmuan dakwah tentunya hal-hal yang terkait dengan langkah srategis dan teknis dapat dicari rujukannya melalui teori-teori dakwah.
3.      Problem yang menyangkut sumber daya manusia.
Selain tiga di atas juga ada problematika dakwah dalam masyarakat modern dilihat dari :
1.    Permasalahan Petugas dakwah (Da’i dan Lembaga Dakwah)
Permasalahan diseputar petugas dakwah ini sangat banyak antara lain adalah :
a.           terjadinya penyempitan arti dan fungsi dakwah menjadi hanya sekedar menyampaikan dan menyerukan dari atas mimbar, padahal dakwah sangat luas cakupannya  yaitu mengajak manusia kepada kebajikan dan petunjuk, menyuruh mereka berbuat baik dan melarang mereka dari kemungkaran, agar mereka memperoleh kesejahteraan / kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
b.           umumnya para da’i tidak profesional, bahkan banyak di antara mereka yang menjadikan dakwah sebagai kerja sampingan setelah gagal meraih yang diinginkan, akibatnya dakwah hanya dilakukan sekedar berpidato semata. Padahal Pendakwah adalah pemimpin masyarakat yang dapat memperbaiki kehidupan yang rusak.
c.           banyak di antara da’i yang tidak dapat memahami dan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, padahal Iptek adalah sesuatu yang bersifat netral yang dapat dipergunakan untuk kebaikan dan kejahatan..
d.          longgarnya ikatan batin antara si da’i dengan masyarakat, hubungan itu hanya sebatas ceramah, selesai ceramah dibayar dan habis perkara.
e.           kegiatan lebih banyak bersifat dakwah bil lisan, sedangkan dakwah bil hal jarang dilakukan.
1.      Permasalahan Materi Dakwah
Materi dakwah yang disampaikan pada umumnya adalah bersifat pengulangan atau klise sehingga menimbulkan kejenuhan bagi masyarakat. Dan jarang sekali menyinggung kemajuan Iptek dalam rangka menunjang peningkatan Imtaq.
2.      Permasalahan pendekatan dan metode dakwah
Dalam melakukan pendekatan dan metode dakwah banyak di antaranya yang kurang/tidak tepat sasaran sesuai dengan situasi dan kondisinya. Padahal Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar berbicara (memberikan dakwah) kepada manusia sesuai dengan tingkah laku atau pola pikirannya masing-masing.
3.      Permasalahan Media, Sarana dan Dana Dakwah
Jarang sekali di antara da’i dan Lembaga Dakwah yang memanfaatkan media canggih sebagai sarana untuk berdakwah seperti HP, TV, VCD, Film, Internet dan lain sebagainya, padahal sarana ini sangat ampuh dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Selain itu lembaga dakwah dan bahkan da’i sangat minim / kurang dalam hal pendanaan.
4.      Permasalahan Manajemen dan Sistem Dakwah
Kelemahan utama dalam bidang manajemen adalah kurang mampunya pengelola lembaga dakwah dalam menerapkan manajemen modern  dalam pengelolaan lembaga dakwah. Pada umumnya mereka menerapkan manajemen tradisional dalam pengelolaan lembaga dakwah. Selain itu manajemen lembaga dakwah banyak yang bersifat tertutup, tidak melaksanakan open manajemen sehingga program-programnya tidak diketahui oleh masyarakat.[6]


D.    Solusi Problematika dakwah dalam Masyarakat Modern
Dakwah merupakan suatu masalah yang kongkrit, yang rill, tidak hanya sebagai perintah Tuhan saja. Sampai sekarang para ahli dakwah kita pada umumnya menitikberatkan perhatian terhadap dakwah sebagai perintah Allah, tapi kurang melihatnya sebagai masalah yang konkrit dan rill. Yang meminta pemecahan operasinal lebih lanjut.
Dakwah artinya seruan, ajakan, panggilan, atau mendakwah berarti usaha meyeru, menyampaikan/Dakwah Islamiah, maksudnya usaha menyampaikan prinsip-prinsip ajaran Islam, pembinaan dan pengembangannya ditengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu dakwah akan mempunyai suatu tugas pembentukan individu, pembinaan umat, pembangunan masyarakat dan mencerdaskannya. Dakwah mengandung lingkup yang sangat luas ruang lingkupnya seluas kehidupan manusia itu sendiri. Dakwah tidak terbatas kepada tabligh tapi dapat pula berbentuk tindakan dan perbuatan nyata. Dakwah dimanivestasikan dalam kehidupan sehari-hari seperti dikantor, bergaul dengan tetangga, di pasar, bergaul dengan sesama. Dengan demikian opini publik tentang Islam menjadi baik, timbul rasa senang dan simpati yang pada akhirnya ingin mengelompokkan diri ke dalam kelompok muslim yang taat.
Agar dakwah dalam konteks kekinian dan kedisinian kita dapat berdaya guna dan berhasil guna maka diperlukan para juru dakwah yang profesional dengan kemampuan ilmiah, wawasan luas yang bersifat generalis, memiliki kemampuan penguasaan, kecakapan, kekhususan yang tinggi. Orang yang seperti ini adalah orang yang percaya diri, berdisiplin tinggi, tegar dalam berpendirian dan memilik integritas moral keprofesionalan yang tinggi. Mampu bekerja secara perorangan dan secara tim dengan sikap solidaritas atas komitmen dan konsisten yang teruji kokoh. Untuk menjadi tenaga dakwah yang professional, menurut Prof. Dr. H. Djudju Sudjana (1999), seorang da’i harus memiliki tiga kompetensi, yaitu kompetensi akademik, kompetensi pribadi, dan kompetensi sosial.
Mendakwahkan Islam berarti memberikan jawaban Islam terhadap berbagai permasalahan umat. Karenanya dakwah Islam selalu terpanggil untuk menyelasaikan berbagai permasalahan yang sedang dan akan dihadapi oleh umat manusia. Meskipun misi dakwah dari dulu sampai sekarang tetap sama yaitu mengajak umat manusia kedalam sistem Islam, namun tantangan dakwah berupa problematika umat senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Untuk mengatasi berbagai persoalan diatas, tidak cukup hanya dengan melakukan program dakwah yang konvensional, sporadis, proaktif, dan reaktif, tetapi harus bersifat profesional, strategis, dan pro-aktif. 
Menghadapi mad’u (sasaran dakwah) yang semakin kritis dan tantangan dunia global yang semakin kompleks dewasa ini, maka diperlukan dapat bersaing di bursa informasi yang semakin kompetitif. Ada beberapa rancangan kerja dakwah yang dapat dilakukan untuk menjawab problematika umat dewasa ini:
1.      Memfokuskan aktivitas dakwah untuk mengentaskan kemiskinan umat.
2.      Menyiapkan profil strategis muslim untuk disuplai ke berbagai jalur kepemimpinan bangsa sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing.
3.      Membuat peta sosial umat sebagai sosial umat sebagai informasi awal bagi pengembangan dakwah.
4.      Mengintegrasikan wawasan etika, estetika, logika, dan budaya dalam berbagai perencanaan dakwah baik secara internal umat maupun secara eksternal.
5.      Mendirikan pusat-pusat studi dan informasi umat secara lebih profesional dan berorientasi pada kemajuan iptek.
6.      Menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan ekonomi, kesehatan, dan kebudayaan umat Islam.
Sedangkan dalam metode dakwah islam terdapat 3 prinsip umum metode dakwah, yaitu metode Bil-hikmah, metode bil-mauidzotil khasanah, dan metode mujadalah. banyak penafsiran para Ulama terhadap tiga Prinsip metode tersebut antara lain:
a.       Metode hikmah : menurut Syeh Mustafa Al-Maroghi dalam tafsirnya mengatakan bahwa hikmah yaitu; Perkataan yang jelas dan tegas disertai dengan dalil yang dapat mempertegas kebenaran, dan dapat menghilangkan keragu-raguan.
b.      Metode mau’izah khasanah menurut Ibnu Syayyidiqi adalah memberi ingat kepada orang lain dengan fahala dan siksa yang dapat menaklukkan hati.
c.       Metode mujadalah dengan sebaik – baiknya berdakwah.
Ketiga metode dakwah tersebut diaplikasikan dalam berbagai pendekatan, diantarnya yaitu:
a.       Pendekatan Personal; Pendekatan dengan cara ini terjadi dengan cara individual. Antara da’i dan mad’u langsung bertatap muka sehingga materi yang disampaikan langsung diterima.
b.      Pendekatan Pendidikan; Pada masa Nabi, dakwah lewat pendidikan dilakukan beriringan dengan masuknya Islam kepada kalangan sahabat. Begitu juga pada masa sekarang ini,kita dapat melihat pendekatan pendidikan teraplikasi dalam lembaga – lembaga pendidikan pesantren, yayasan yang bercorak Islam ataupun perguruan tinggi yang didalamnya terdapat materi-materi keislaman.
c.       Pendekatan Diskusi;  Pendekatan diskusi pada era sekarang sering dilakukan lewatberbagai diskusi keagamaan, da’i berperan sebagai nara sumber sedang mad’u berperan sebagai undience.
d.      Pendekatan Penawaran; Cara ini dilakukan Nabi dengan memakai metode yang tepat tanpa paksaan sehingga mad’u ketika meresponinya tidak dalam keadaan tertekan bahkan ia melakukannya dengan niat yang timbul dari hati yang paling dalam.
e.        Pendekatan Misi; Maksud dari pendekatan ini adalah pengiriman para da’i ke daerah – daerah di luar tempat domisisli.
Sukses tidaknya suatu kegiatan dakwah bukanlah diukur melalui gelak tawa atau tepuk riuh pendengarnya, bukan pula dengan ratap tangis mereka. Kesuksesan dakwah dapat dilihat pada bekas yang ditinggalkan dalam benak pendengarnya ataupun tercermin dalam tingkah laku mereka. Untuk mencapai hasil yang maksimal, tidak dapat lain dakwah Islam harus dilaksanakan secara efektif. Efektifitas dapat diartikan sampai dimana suatu organisasi dapat mencapai tujuan-tujuan utama yang telah ditetapkan. Dalam kaitannya dengan proses dakwah, maka efektifitas dakwah dapat diukur melalui tingkat keberhasilan dakwah dalam mencapai tingkta out put  sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, yaitu terbentuknya kondisi yang Islami.

E.     Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan :
1.      Problematika dakwah dalam masyarakat modern adalah permasalahan yang muncul dalam menyeru, memanggil, mengajak dan menjamu, dengan proses yang ditangani oleh para pengembang dakwah terhadap masyarakat yang sebagian besar warganya mempunyai orientasi nilai budaya yang terarah ke kehidupan dalam perkembangan zaman masa kini.
2.      Bentuk-bentuk problematika dakwah dalam masyarakat modern antara lain :
a.     Permasalahan Petugas dakwah (Da’i dan Lembaga Dakwah)
b.    Permasalahan Materi Dakwah
c.     Permasalahan pendekatan dan metode dakwah
d.    Permasalahan Media, Sarana dan Dana Dakwah
e.     Permasalahan Manajemen dan Sistem Dakwah
3.      Solusi dakwah dalam problematika masyarakat modern
a.     Memfokuskan aktivitas dakwah untuk mengentaskan kemiskinan umat
b.    Menyiapkan profil strategis muslim untuk disuplai ke berbagai jalur kepemimpinan bangsa sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing.
c.     Membuat peta sosial umat sebagai sosial umat sebagai informasi awal bagi pengembangan dakwah.
d.    Mengintegrasikan wawasan etika, estetika, logika, dan budaya dalam berbabagi perencanaan dakwah baik secara internal umat maupun secara eksternal.
e.     Mendirikan pusat-pusat studi dan informasi umat secara lebih profesional dan berorientasi pada kemajuan iptek.
f.      Menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan ekonomi, kesehatan, dan kebudayaan umat Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Anas A, 2005, Paradigma Dakwah Kontemporer. Semarang : Walisongo Press IAIN Walisongo
Aminudin, Dakwah dan Problematikanya dalam Masyarakat Modern, Al Munzir Vol 8 No 1, Mei 2015
Siti Muriah, 2000, Metodologi Dakwah Kontemporer, Yogyakarta, Mitra Pustaka, Lembaga Percetakan Raja Fahd

LAMPIRAN
No
Akar Masalah
Solusi
1
Petugas dakwah (Da’i dan Lembaga Dakwah)
·         diperlukan para juru dakwah yang professional dengan kemampuan ilmiah, wawasan luas yang bersifat generalis, memiliki kemampuan penguasaan, kecakapan, kekhususan yang tinggi
·         Menyiapkan profil strategis muslim untuk disuplai ke berbagai jalur kepemimpinan bangsa sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing
2
Materi Dakwah
·         bersifat profesional, strategis, dan pro-aktif
3
Pendekatan dan Metode Dakwah
·         Melakukan pendekatan personal, pendidikan,diskusi, perencanaan, misi
4
Media, sarana, dan dana dakwah
·         Memfokuskan aktivitas dakwah untuk mengentaskan kemiskinan umat
·         Mendirikan pusat-pusat studi dan informasi umat secara lebih profesional dan berorientasi pada kemajuan iptek
·          
5
Manajemen dan Sistem Dakwah
·         Mengintegrasikan wawasan etika, estetika, logika, dan budaya dalam berbabagi perencanaan dakwah baik secara internal umat maupun secara eksternal



[1] A. Anas, Paradigma Dakwah Kontemporer, ( Semarang (ID): Walisongo Press IAIN Walisongo, 2005), hlm. 76
[2] Siti Muriah , Metodologi Dakwah Kontemporer, Yogyakarta, Mitra Pustaka, 2000, Lembaga Percetakan Raja Fahd, hlm. 35
[3] Ibid, hlm 38
[4] Aminudin, Dakwah dan Problematikanya dalam Masyarakat Modern, Al Munzir Vol 8 No 1, 2015, hlm 15
[5] Ibid, hlm 23
[6] A. Anas, Paradigma Dakwah Kontemporer, (Semarang (ID): Walisongo Press IAIN Walisongo, 2005), hlm. 83

Tidak ada komentar:

Posting Komentar